Selasa, 29 Mei 2012

JUAL BELI


JUAL BELI

1.        Pengertian dan Dasar Hukum Jual Beli
Jual beli artinya pertukaran barang dengan barang atau barang dengan uang. Beberapa ahli mendefinisikan jual beli sebagai berikut, diantaranya adalah Imam Nawawi dalam kitabnya Al-Majmu’, mengatakan bahwa jual beli adalah pertukaran harta dengan harta untuk kepemilikan. Dan Ibnu Qudamah dalam kitapnya Al-Mughni, mengatakan bahwa jual beli adalah pertukaran harta dengan harta untuk saling memiliki. Dari definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa jual beli adalah tukar menukar suatu barang dengan barang yang lain dengan cara tertentu. Dasar hukum jual beli adalah sebagai berikut:
a.    Firman Allah swt.:
. . . وَاَحَلُّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَوا . . . (البقرة : 275)
“... Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba...” (Q.S. Al Baqarah: 275)
b.   Sunah Nabi Muhammad saw.
Pada suatu hari, saat Nabi saw. ditanya tentang mata pencaharian yang paling baik, beliau menjawab, “Seorang bekerja dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur.”
Maksud mabrur dalam hadits itu adalah jual beli yang terhindar dari usaha tipu menipu dan merugikan orang lain.
c.    Ijmak para Sahabat
Para ulama telah sepakat bahwa jual beli diperbolehkan denganalasan bahwa manusia tidak akan mampu mencukupi kebutuhan dirinya tanpa bantuan orang lain. Akan tetapi, bantuan barang milik orang lain yang dibutuhkannya itu harus diganti dengan barang lain yang sesuai. Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa hukum jual beli adalah boleh atau mubah.

2.        Rukun Jual Beli
Para ulama sepakat bahwa ada empat rukun jual beli, yaitu:
a.    Bai’ (penjual), yaitu pihak yang dikenai tuntutan untuk menjual.
b.    Musytari (pembeli), yaitu pihak yang menghendaki memiliki sesuatu denagn pembelinya.
c.    Sigat (ijab dan kabul), yaitu transaksi yang dilakukan oleh kedua belah pihak.
d.   Ma’qud ‘alaih (benda atau barang), yaitu sesuatu yang menjadi objek transaksi.
Adapun syarat agar jual beli sah, penjual dan pembeli harus memenuhi syarat berikut ini:
a.    Berakal, supaya seseorang tidak terkecoh.
b.    Dilakukan atas kehendak sendiri, bukan dipaksa atau keterpaksaan.
c.    Tidak mubazir (boros) sebab harta orang yang mubazir itu di tangan walinya.
d.   Balig (berumur 15 tahun ke atas), bagi anak-anak yang sudah mengerti boleh melakukan jual beli yang kecil-kecil.

3.        Syarat Jual Beli
Secara umum, disyaratkannya jual beli adalah untuk menghindari pertentangan diantara manusia, menjaga kemaslahatan orang yang berakad, dan menghindari jual beli garar (penipuan).
Syarat jual beli meliputi empat hal, yaitu:
a.    Syarat terjadinya akad
Jual beli batal apabila syarat terjadinya akad tidak terpenuhi. Hal ini menurut ulama Hanabilah.
b.   Syarat sahnya akad
Syarat terbagi menjadi dua, yaitu:
1)   Syarat umum
Yaitu syarat-syarat yang berhubungan dengan semua bentuk jual beli yang telah ditetapkan oleh syarak dan terhindar dari kecacatan jual beli, yaitu ketidakjelasan, keterpaksaan, pembatasan waktu dengan waktu, penipuan, kemudaratan, dan persyaratan yang merusak lainnya.
2)   Syarat khusus adalah syarat-syarat yang hanya ada pada barang-barang tertentu, seperti:
a)    Barang yang diperjualbelikan harus dapat dipegang.
b)   Harga awal harus diketahui.
c)    Serah terima benda dilakukan sebelum berpisah, yaitu pada jual beli yamg ada di tempat.
d)   Terpenuhi syarat penerimaan.
e)    Harus seimbang dalam ukuran timbangan, yaitu pada jual beli yang memakai ukuran atau timbangan.
f)    Barang yang diperjualbelikan sudah menjadi tanggungjawabnya. Oleh karena itu,tidak boleh menjual  barang yang masih berada di tangan penjual.
c.    Syarat terlaksananya akad
Syarat terlaksananya akad adalah sebagai berikut:
1)   Benda dimiliki oleh aqid (berkuasa untuk akad).
2)   Pada benda tidak terdapat milik orang lain. Oleh karena itu, tidak boleh menjual barang sewaan dan barang gadai karena barang tersebut bukan miliknya sendiri, kecuali diizinkan oleh pemilik sebenarnya, yakni jual beli yang ditangguhkan.
Berdasarkan syarat terlaksananya akad dan wakaf 9penangguhan), maka jual beli terbagi dua, yaitu;
1)   Jual beli nafaz
Adalah jual beli yang dilakukan oleh orang yang telah memenuhi syarat dan rukun jual beli tersebut dikategorikan sah.
2)   Jual beli mauquf
Adalah jual beli yang dilakukan oleh orang yang tidak memenuhi nafaz, yakni bukan milik dan tidak kuasa melakukan akad, seperti jual beli fudul (jual beli milik orang lain, tanpa ada izin). Jika pemiliknya mengizinkan, maka jual beli fudul dipandang sah. Sebaliknya, jika pemilik tidak mengizinkan, dipandang batal. Para ulama berbeda pendapat dalam jual beli fudul ini.
d.   Syarat kepastian
Syarat kepastian hanya ada satu, yaitu akad jual beli harus terlepas atau terbebas dari khiar (pilihan) yang berkaitan dengan kedua belah pihak yang akad dan menyebabkan batalnya akad.

4.        Jual Beli yang Dilarang
Yang dilarang di dalam Islam tentang jual beli sangatlah banyak. Diterangkan oleh Wahbah Al-Zuhaili sebab-sebab terlarangnya jual beli, yaitu:
a.    Terlarang sebab ahliah
Orang yang dilarang melakukan transaksi jual beli karena sebab ahliah adalah:
1)   Orang gila
2)   Anak kecil
3)   Orang buta
4)   Fudul (jual beli milik orang lain tanpa izin)
5)   Orang yang terhalang (misal karena kebodohan, bangkrut atau sakit)
6)   Majla’ adalah jual beli orang yang sedang dalam bahaya, yakni untuk menghindar dari perbuatan zina.
b.   Terlarang sebab sigat
Ulama fiqih telah sepakat bahwa jual beli yang didasarkan pada keridaan antara pihak yang melakukan akad, ada kesesuaian antara ijab dan kabul, berada disatu tempat, dan tidak terpisah oleh suatu pemisah adalah sah.
Sebaliknya, jual beli yang tidak memenuhi ketentuan tersebut dipandang tidak sah atau masih diperselisihkan para ulama, seperti macam-macam jual beli berikut:
1)   Jual beli mu’ah adalah jual beli yang sudah disepakati oleh pihak akad, berkenaan dengan barang dan harganya, tetapi tidak memakai ijab kabul.
2)   Jual beli melalui utusan dan surat. Jual beli semacam ini adalah sah selam utusan dan surat itu sampai pada tujuan. Jual beli tidak sah bila yang terjadi adalah sebaliknya.
3)   Jual beli dengan syarat atau lisan selama bisa dibaca dan dimengerti. Juka terjadi sebaliknya, maka jual beli menjadi tidak sah, misal tulisannya kaburdan isyaratnya tidak dapat dipahami.
4)   Jual beli barang yang tidak ada ditempat.
5)   Jual beli tidak berkesesuaian dengan ijab kabul.
6)   Jual beli munjiz (jual beli yang ditangguhkan).
c.    Terlarang sebab ma’qud ‘alaih (objek akad)
Ma’qud ‘alaih adalah harta yang dijadikan alat pertukaran oleh orang yang berakad, biasa disebut dengan istilah mabi’ (barang jualan), seperti:
1)   Jual beli benda yang dikhawtirkan tidak ada barangnya.
2)   Jual beli yang tidak dapat diserahkan barangnya.
3)   Jual beli garar (tipuan) adalah jual beli yang mengandung kesmaran.
Contoh jual beli garar adalah:
a)    Jual beli al-hashah, yaitu jual beli yang menggunakan batu kerikil atau sejenisnya.
b)   Dharbah al-ghawas, yaitu jual beli dari menyelam, barang yang diperjualbelikan tidak jelas, apa yang didapatkan dari laut ketika menyelam itulah yang dibayar.
c)    Jual beli al-nitaaj, yaitu perjanjian jual beli pada hasil ternak sebelum dihasilkan, misalnya susu srbelum diperah.
d)   Jual beli mulamasah, yaitu jual beli dengan meraba. Contoh:eharusan membeli pada kain yang diraba tanpa mengetahui keadaan barangnya.
e)    Jual beli mukhadharah, yaitu jual beli benda yang masih hijau, buah atau biji-bijian yang belum masak. Contoh: kurma yang masih hijau yang belum ada tanda-tanda masak.
f)    Jual beli bulu binatang yang masih di badan.
g)   Jual beli munaabadah, yaitu jual beli dengan cara berebutan. Contoh: dua orang calon pembeli melakukan transaksi dengan cara berebut, barang wajib dibeli walaupun tidak rida.
h)   Jual beli muhaaqalah, yaitu membeli buah di kebun dengan sesuatu yang tertentu. Contoh: jeruk ditukar dengan gandum.
i)     Jual beli muzaabanah, contoh: jurma basah ditukar dengan kurma kering dengan ukuran yang tidak jelas.
j)     Jual beli habalu al-habalah, yaitu jual beli binatang yang masih di perut (yang belum dilahirkan).
4)   Jual beli barang najis dan yang terkena najis.
5)   Jual beli barang yang tidak jelas (majhul).
6)   Jual beli air (Mazhab Zihiriah dan yang lain tidak mengharamkannya).
7)   Jual beli barang yang tidak ada ditempat.
8)   Jual beli sesuatu yang belum dipegang.
9)   Jual beli buah-buahan atau tumbuh-tumbuhan yang belum jelas buahnya.
d.   Terlarang sebab syarak
1)   Jual beli riba.
2)   Jual beli dengan uang dari barang yang diharamkan.
3)   Jual beli barang dari rampasan atau malak di jalan.
4)   Jual beli sperma hewan jatang dengan cara mencampurkan hewan tersebut dengan hewan betina.
5)   Jual beli anggur untuk dijadikan khamar.
6)   Jual beli barang yang sedang dibeli oleh orang lain.
7)   Jual beli bersyarat.

5.        Hikmah Jual Beli
a.    Membangkitkan semangat kerja
Jual beli mendidik manusia untuk bekerja keras, tidak menjadi pengemis serta mengharap pemberian orang lain. Sebab sikap meminta-minta akan menjatuhkan martabat baik dihadapan manusia maupun di hadapan Allah swt..
b.   Menjadikan manusia ingat kepada Allah swt.
Allah swt. adalah Zat yang Mahakaya dan kepada-Nya lah tempat seluruh umat manusia memohon rizeki. Dalam berniaga sering orang menggunakan cara-cara yang curang untuk meraup untung besar. Cara yang curang hanya akan memperoleh rizeki yang tidak berkah. Sebaliknya, jika dalam berniaga sesuai dengan syariat-Nya serta profesionak, jujur, sabar, tidak mampu, ulet dan tidak lupa berdo’a maka akan memperoleh rizeki yang berkah.

6.        Jual Beli yang Benar
Pada dasarnya jual beli adalah proses untuk memiliki harta atau barang dengan sah secara hukum. Jual beli yang benar adalah jual beli yang sesuai dengan kehendak syarak yaitu memenuhi persyaratan, rukun jual beli, dan hal-hak lain yang ada kaitannya dengan jual beli.
Maka perlu diperhatikan, agar terjadi jual beli yang benar adalah barang yang dijual harus terjamindari kesucian, jangan menjual barang yang najis, bukan barang yang rusak, barang harus jelas dan tampak.

2 komentar: